SELAMAT DATANG DI PADEPOKAN PRIBADI PANGERAN2000

Selasa, 11 Januari 2011

CARA KERJA ILMU TARBIYAH (PENDIDIKAN)

A. Pendahuluan
Karakteristik dasar pemikiran Islam mengenai pendidikan Islam, cenderung bersifat organik, sistematik dan fungsional dengan akar paradigma mengacu pada Al-Qur’an, Al Hadist dan sejarah Islam. Realitas apapun yang kita fikirkan, tetap akan masuk dalam kerangka global dan rinci pada tiga sumber paradigma tersebut. Secara organik, pendidikan Islam tidak bisa dikembangkan dengan dasar acuan diluar Al-Qur’an, Al Hadist dan sejarah Rasululloh pada khususnya. Secara sistematik, pemahaman pendidikan Islam tidak bisa parsial, karena hasilnya akan menambah perbendaharaan agenda masalah umat. Sedangkan pendekatan fungsional, mengajak pemikir Islam untuk melihat, merumuskan dan merumuskan masalah yang dihadapi pendidikan Islam dalam rangka keilmuan Islam, sistem pendidikan Islam dan cita perwujudan khair al Ummah melalui dakwah Islam.

Pendekatan yang disebutkan terakhir, merupakan bentuk operasionalisasi dua pendekatan pertama, sehingga masalah pendidikan Islam bukan hanya persoalan dalam kelas, tetapi juga menjadi masalah dakwah Islam dan sistem pembangunan kehidupan khair al ummah, sebagai peradaban Islam alternatif. Pola hubungan masalah pokok dimaksud, secara global dapat menjelaskan bahwa bentuk aktivitas dakwah Islam yang tidak bisa menyajikan Islam secara kaffah menyebabkan sistem keilmuan dan pendidikan Islam dikotomik. Sistem keilmuan pendidikan Islam yang dikotomik, tidak akan mendukung terwujudnya tata kehidupan khair al ummah yang mampu melahirkan peradaban yang Islami.

B. Pengertian Pendidikan Islam
Ada perbedaan pemahaman secara etimologis di kalangan pemikir pendidikan Islam, sehingga kita perlu menelusuri kembali pemikiran-pemikiran tersebut, guna memperoleh gambaran suatu pengertian sebagaimana yang kita harapkan. Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan Islam ditunjukkan dengan beberapa istilah yang masing-masing istilah memiliki implikasi yang berbeda dengan istilah lainnya, diantara istilah tersebut adalah :

1. Tarbiyah

Istilah tarbiyah ini menurut Najib Khalid al-Amir berasal dari fi’il “Rabba-Yurabbi” yang artinya memperbaiki sesuatu dan meluruskan. Sedangkan kata ‘Ar-Rabbu – Tarbiyatan” ditujukan kepada Allah Swt. yang artinya “Tuhan Pemilik segala sesuatu, Raja dan Pemiliknya, Tuhan yang ditaati dan Tuhan yang memperbaiki”. Sebagai dasar pengambilan istilah ini adalah firman Allah dalam QS. 17 : 24:

Terjemahnya :
Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil.

Apabila tarbiyah diidentikkan dengan bentuk madlinya (rabba-yarubbu) sebagaimana ayat di atas, maka tarbiyah memiliki maksud “mengasuh, menanggung, memberi makan, memproduksi, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan dan menjinakkan. Pada identifikasi pengertian tarbiyah kedua ini yang menjadi sasaran tarbiyah bukan hanya unsur jasmani saja tapi juga unsur rohani.

Sedangkan secara terminologi (istilah definisi) dalam bukunya Gunarto MS. Mengutip dari Munir Mursy :

Yang artinya :
Pendidikan Islam adalah pendidikan fitrah manusia, karena sesungguhnya Islam itu adalah agama fitrah dan setiap perintah, larangan dan pengajarannya diketahui dengan fitrah ini.

Dalam artian bahwa “Tarbiyah Islamiyah” merupakan pendidikan fitrah, pengembangan potensi manusia, baik dalam rangka menjaga kelangsungan fitrah, mengembangkan intelegensi ataupun mengarahkan pertumbuhan jasmani peserta didik.

2. Ta’lim
Dalam bahasa indonesia, niasanya ta’lim diartikan sebagai pengajaran atau proses tranmisi ilmu pengetahuan pada jiwa individu secara bertahap, sebagaimana proses tranmisi al-Asma’ (Penyampaian nama-nama segala sesuatu dilaksanakan secara bertahap oleh Allah SWT).

Dalam hal ini Muhaimin memberikan keterangan mengenai pengajaran ini:
Formulasi tersebut karena term ‘allama dalam surat al-Baqoroh ayat 31, dikaitkan dengan term ‘arodlo yang berimplikasikan bahwa proses pengajaran Adam tersebut kemudian diakhiri dengan tahapan evaluasi. Konotasi kontek kalimat itu mengacu kepada evaluasi domain kognitif, yakni penyebutan nama-nama benda yang diajarkan belum pada tingakat domain yang lain.

Ada spesefikasi pendidikan pada konsep ta’lim yang berupa masdar dari kata ‘allama, dan kalau kita perbandingakn dengan konsep tarbiyah, ta’lim memiliki jangkauan yang lebih khusus, karena ta’lim merupakan bagian kecil dari tarbiyah ‘aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berfikir yang berorientasi pada domain kognitif (pengetahuan), sedangkan domain lain belum tersentuh secara merata.

3. Ta’dib
Secara etimologi ta’dib berasal dari kata ‘adaba yang mengandung beberapa pengertian : “Membuatkan makanan, melatih akhlaq yang baik, sopan santun dan tata cara melaksanakan sesuatu dengan baik”, lebih lanjut Imam Bawani menjelaskan :
Dalam sebuah Hadits Rosulullah Saw. Bersabda : “Adabani Robbi Faahsana ta’dibi” Tuhanku telah menjadikanku dan dengan itu maka menjadi baiklah pendidikanku (20:60). Di dalam Hadits ini secara eksplisit dipakai istilah ta’dib dari kata ‘adaba yang berarti mendidik Nabi, tentu saja mengandung konsep yang sempurna.

Naquib Al Attas menyebutkan bahwa istilah tarbiyah tidak tepat untuk merujuk pada pengertian pendidikan Islam, sebab kata tarbiyah lebih menekankan segi fisik dan materialnya serta watak kuantitatif. Semua konsep bawaan yang termuat dalam istilah tersebut, berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan material saja. Di samping karena nilai-nilai yang dikenakan dengan keadaan itu disesuaikan dengan tujuan menghasilkan masyarakat yang baik. Oleh karena itu Al Attas mengajukan istilah yang menurutnya lebih tepat untuk menggantikan tarbiyah, yaitu `adab. Istilah `adab dinilai al Attas telah mencakup dimensi ilmu dan amal.

Kemudian dengan berbagai dasar pemikiran, tersebut akhirnya sampai pada redefinisi pendidikan Islam sebagai :
“Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan dalam diri manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan yang sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbingnya kearah pengenalan tempat Tuhan yang tepat di dalam wujud dan kepribadian.

Definisi Al Atas dapat juga dibandingkan dengan rumusan Ali Asyaraf : “Pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara tertentu, sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali dengan nilainilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam”. jika ditelaah secara mendalam, maka definisi Al Atas lebih jelas konsep dasarnya dalam ajaran Islam dibandingkan Ali Asyaraf, disamping yang pertama mengandung proses penyadaran seseorang dalam tatanan kosmis dan sosial yang kemudian akan menemukan dirinya berfungsi sebagai kholifah.sedangkan yang kedua lebih merupakan gambaran proses sintesis kepribadian sebab telah mereduksi Islam sebagai pandangan dunia menjadi hanya nilai spiritual dan etis, sehingga kemungkinan bahwa Islam hanya sebagi sistem penjelasan atas realitas bagi anak didik, yang seolah-olah belum memiliki akar dalam konsep tersebut.

Dalam persoalan ini, konsep adab [ta’dib] yang diintrodusir oleh Hasan Bilgrami dari Asyaraf, menjadi berbeda dengan konsep al Attas, sebab ‘adab menurut mereka dimaksudkan sebagai penghormatan yang dalam dan respek terhadap guru, di pertemuan-pertemuan dan sebagainya. Bagi al Attas dengan prinsip ini, ilmu pengetahuan akan mudah diperoleh. Bahkan adab akan mengarahkan kepada ta’zim [realisasi kebesaran Islam] dan ta’zim akan menuju kepada ta’mil [kehendak untuk menyerahkan kepada dari sepenuh hati dan jiwa kepada Islam.

Tetapi konsep al Attas dalam pelaksanaan pendidikan Islam akan sangat tergantung pada konsep dasar dan taksonomi ilmu. Jika taksonomi ilmu yang digunakan bersifat dikotomik maka ta’dib sebagai proses dan isi pendidikan tidak dapat diintegrasikan kepribadian ideal yang diharapkan oleh konsep dasar tersebut.
Semua kandungan isi pendidikan Islam bermaksud mewujudkan tujuan pendidikan yang antara lain sebagaimana yang direkomondasikan konferensi pendidikan Islam di Jeddah [1977] yaitu untuk menciptakan kepribadian manusia secara total dan memenuhi pertumbuhan dalam segala aspeknya sesuai dengan yang diidamkan Islam. ini mempunyai arti sebagai realisasi takwa kepada Allah SWT.

Taqwa yang merupakan kata kunci dalam tujuan pendidikan Islam, sering tidak dijabarkan secara operasional sehingga mudah dalam menentukan alat evaluasi pendidikan. Taqwa dalam masyarakat Islam, menjadi sebuah istilah yang abstrak. Memang para khatib selalu menyatakan bahwa taqwa adalah takut kepada Allah dengan selalu memdekatkan diri kepadanya dalam arti selalu menjalankan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarangkannya. Hal ini mengandung makna bahwa taqwa sebagaimana yang dapat diketahui dari Alqur’an, merupakan pribadi yang paling ideal yang diharapkan oleh setiap manusia agar kelak mendapat ridha Allah di akhirat. Hal ini dikarenakan kesudahan yang baik diperuntukan bagi orang-orang yang taqwa dan taqwa itu sendiri menjadi prinsip pembela manusia dihadapan Allah.

Oleh karena itu sangat idealnya kepribadian taqwa namun dengan pandangan yang abstrak, bahkan dapat dikatakan “kabur” maka yang perumus kebijakan pendidikan, senantiasa mencamtumkan kata taqwa sejajar dengan berilmu pengetahuan dan ketrampilan serta nilai-nilai tmporal lingkngan lainnya. Taqwa dalam kerangka demikian bukan merupakan konsep kunci, tetapi hanya sebagai pelengkap tujuan lainnya.
Perumusan seperti itu, sudah tentu tidak bisa dibantah lagi sebagaii rumusan tujuan pendidikan yang dikotomik yang berasal dari pandangan dunia ganda [dunia dan akhirat] yang ada didunia muslim. Sebab dalam Islam, jika Qur’an ditelaah sebagai kesatuan yang saling berhubungan satu sama lainnya, maka taqwa sebagai kata kunci mampu melahirkan makna sebagaimana banak terdapat pada ayat-ayat Alqur’an. Oleh karena itu, aktifitas keilmuan [berpengetahuan], sosial, polotik, ekonomi dan lain-lain sudah merupakan kandungan konsep taqwa dengan nilai penyatu utama yang disebut tauhid.

Al qur’an yang merupakan rujukan dasar pemikiran Islam, mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan. Contohnya ketika Luqman mengajarkan putranya yang pertama disampaikan adalah prinsip tauhid dan larangan syirik, karena syirik merupakan kejahatan terbesar. Kemudian ia mengajarkan ilmu pengetahuan Islam [hikmah] dan memberikan batas-batas potensi manusia untuk mengetahui, mengajarkan sholat untuk menumbuhkan amal sholeh, mendidik akhlaq al kharimah, baik yang berkaitan dengan Allah SWT, diri sendiri dan sesama manusia.

C. Problem ‘Ilm
Kata ‘ilm dalam bahasa arab biasanya diterjemahkan dan memiliki dua arti yaitu “belajar/pendidikan” [learning] dan pengetahuan [knowledge] yang merujuk pada dua hal yaitu: proses untuk mendapatkan pengetahuan [knowledge] dan informasi [sesuatu] yang diperoleh akibat dari proses belajar/pendidikan tersebut. Kata ‘ilm ini jelas berbeda dengan kata fiqh yang berarti al fahm yang merujuk pada arti “proses memahami” [process of understanding] atau “menarik kesimpulan” [deduksi]. Kata fiqh tidak merujuk pada arti “hasil atau produk dari belajar/pendidikan” [the end product of learning].

Dalam perjalanan awal pembentukannya, Islam tidak hampir menyisakan satu ruangpun yang tidak tersentuh oleh ajarannya. Perjalanan hidup Muhammmad sebagai manusia terpilih untuk membawakan ajaran ini ditengah-tengah masyarakatnya saat itu pada akhirnya tidak saja dianggap sebagai panutan kaum muslimin pengkutnya bahkan sebagai sumber hukum [sunnah atau hadits]. Akan halnya dengan ‘ilm dalam pengertian learning dan knowledge di atas, beberapa hadist populer sering dijadikan “lagu penyelamat” bagi para “santri” dalam belajar”. Mencari ilmu itu kewajiban bagi setiap kaum muslimin“, mencari ilmu dari buaian sampai liang lahat”, “tuntutlah limu dari negeri cina“, telah kutinggalkan kepadamu dua hal, engkau tidak akan sesat sesudah keduannya, ialah Kitabullah [Alqur’an] dan Sunnahku”, sekedar untuk menyebut beberapa contoh. Bahkan Hadist yang disebut terakhir yang diriwayatkan oleh beberapa kalangan. Artinya, pendidikan Islam haruslah bersumber dari Qur’an dan Sunnah. Terlebih lagi pembacaan beberapa ayat Qur’an yang juga dalam perspektif diatas. Artinya, “orang berilmu” menduduki posisi terhornmat dibandingkan yang tidak [QS 58: 11; 39: 9]. Tak pelak maka aktifitas belajar, mencari ilmu menjadi tugas suci [a sacred religious duty] bagi setiap muslim.

Karenanya sangat penting untuk melihat kembali ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad. Catatan sejarah menunjukan iqra, kalimat pembuka dalam surat al alaq yang berarti “bacalah”, adalah ayat yang pertama kali turun yang mengisyaratkan kewajuban manusia,dalam hal ini Muhammad, untuk mencari pengetahuan [knowledge] lewat proses belajar [learning]. Namun demikian Qur’an secara jelas menyebutkan batasan pengetahuan yang bisa diketahui manusia [QS 17: 85]. Keterbatasan manusia untuk memahami secara komperehensif segala sesuatu [biasanya digunakan istilah yang bergandengan “segala sesuatu yang dilangit dan dibumi”] banyak disebutkan dalam Qur’an yang menunjukkan kemahakuasaan Allah untuk hanya memberikan pengetahuan apa saja yang Ia kehendaki dan hanya kepada siapa saja yang Ia kehendaki [QS. 27: 65]. Dengan keterbatasannya, manusia tidak bisa membanggakan apa yang telah ia capai. Dengan demikian “belajar” dan “akal” kemudian hanyalah dua instrumen yang tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan rahasia yang hanya Tuhan yang tahu.

Persoalan seputar inilah yang selalu menghantui dan menjadi perdebatan “tak berkesudahan” antara dua kubu yang saling berhadapan sejak masa al Ghazali (1058-1111), Ibn Rusyd (1126-1198) sampai masa kita sekarang. Kubu rasionalis tidak begitu pasrah dan menerima begitu saja keberadaannya sebagai hamba Tuhan, karenanya harus ada refleksi terhadap kondisi alam ini (QS. 7: 185; 88: 17). Sementara di pihak lain ada yang meyakini ilmu sebagai “rahasia Allah” karenanya diperlukan amalan-amalan, riyadah, nonrational method or exercise, untuk membuka “rahasia Allah”.

Meminjam terminologi yang digunakan dalam triloginya Jabiri, bahwa “pertentangan nalar” sepanjang sejarah Islam itu mengkristal dalam tiga episteme, yaitu bayani (explanatori), irfani (gnosis) dan burhani (demonstratif). Adalah sangat jelas bahwa antara ketiga pengusung episteme ini dalam perjalanan sejarahnya terjadi saling benturan. Tetapi Jabiri sebenarnya hanya ingin bertanya dan berdialog dengan sejarah; “apakah warisan tradisi/turas itu mengungkung kira dalam turas tertentu?” jawabannya akan sangat tergantung dari pertanyaan selanjutnya, “bagi siapa?”. Dalam kasus suatu kesadaran yang telah mampu menimbulkan perubahan dalam turas yang bersangkutan, maka jawabannya adalah turas tersebut minus perubahan yang telah di ciptakan oleh kesadaran tersebut. Artinya proses dialog yang tidak terbatasi oleh waktu dan tidak ada pula satu titik perhentian, di mana sejarah justru membentengi turas sehingga tidak bisa tersentuh oleh pertanyaan apapun. Bila sampai pada titik ini, maka yang akan terjadi adalah sebuah proses taqdis ‘l-fikr, sakralisasi atas pemikiran atau pemikir tertentu.

Yang pasti dan terpenting dari mereka adalah bahwa produk pemikiran tokoh-tokoh tersebut telah menimbulkan perubahan yang luas dan vital dalam perjalanan sejarah selanjutnya. Karenanya kritik terhadap produk pemikiran para tokoh itu melibatkan suatu kesadaran akan apa yang dikritik dan ditolak. Dengan demikian, mengharuskan adanya keterlibatan nalar kritis dalam bentuk hubungan pertemanan yang kritis (ta’ammul ‘l-naqd) antara kita dan turas dimaksud.

D. Kesimpulan
1.‘Ilm memiliki dua arti yaitu, [learning] dan pengetahuan [knowledge] yang merujuk pada dua hal yaitu: proses untuk mendapatkan pengetahuan [knowledge] dan informasi [sesuatu] yang diperoleh akibat dari proses belajar/pendidikan tersebut.
2.Tarbiyah merupakan pendidikan fitrah, pengembangan potensi manusia, baik dalam rangka menjaga kelangsungan fitrah mengembangkan intelegensi ataupun mengarahkan pertumbuhan jasmani peserta didik.
3.Konsep tentang pendidikan Islam masih sulit untuk dirumuskan karena masih terdapat dikotomi dalam pengertian ‘ilm yaitu ‘ilm dunia dan ‘ilm akhirat.




Daftar Kepustakaan



Al-Amir, Najib Khalid, Tarbiyah Rosulullah, Terj. Ibnu M. Fahruddin, Jakarta, Gema Insani Press, 1994.

Al-Jabiri, Muhammad ‘Abid, Bunyah ‘l-‘Aql ‘l-‘Arabi: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah li-Nazm ‘l-Ma’rifah fi ‘l-(Eaqafah ‘l-‘Arabiyah, Beirut: Dar ath-Thali’ah, cet. 3, 1990.

Arkoun, Mohammed, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat, Jakarta: INIS, 1994.

Bawani, Imam, Segi-segi Pendidikan Islam, Surabaya, al-Ikhlas, 1987.

Brohi, Allabukhsh, “Islamization of Knowledge: A First Step to Integrate and Develop the Muslim Personality and Outlook,” dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge, Herndon, Va.: International Institute of Islamic Thought, 1988.

Esposito, John L., [ed], The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, New York: Oxford University Press, 1995.

Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka al Husna, 1986.

Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung, Triganda Karya, 1993, hlm. 128.

MS., Gunaro, Studi Perbandingan antara Awal dan Batas Pendidikan, Semarang, IAIN Wali Songo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar